Setelah sekian lama berburu media untuk s/h ini, akhirnya bulan lalu saya menemukan salah satu produk dari vendor jerman yang dahulu pernah saya hubungi via email, yang mengatakan bahwa mereka tidak punya outlet di Indonesia. Untuk percobaan pertama, saya membeli 10L media ini. Harganya Rp. 8000/L, cukup mahal, tapi mengingat bahwa pakis (Cyathea sp) bakal semakin langka, begitu pula pohon-pohon yang bisa ditebang untuk dijadikan arang, untuk media yang re-usable harga ini bisa dipertimbangkan keekonomiannya (weks, sok banget, pake bicara keekonomian segala
)
(coba tebak dimana saya menemukannya ???
Harco Plaza Mangga Dua!!!!Benar-benar tidak terduga.
Ketika saya bertanya pada mas penjualnya, memang benar bahwa mereka belum lama mengimpor media ini, belinya juga lewat Singapura. Well jadi anggap saja saya beruntung
)
Ini dia medianya, bila anda membaca mereknya, mohon maaf, bukannya saya mau promosi, tapi saya nggak sempet ambil labelnya

Nama generik untuk media ini adalah pellet lempung bakar ringan atau Lightweight expanded clay aggregates. Terbuat dari pellet yang dicetak dan dibakar pada rotary kiln pada suhu tinggi, bersifat porus, ringan dengan ketahanan tekan yang cukup tinggi (keras, kayak kerikil, eh gundu).
Langkah pertama untuk membuat sistem s/h untuk anggrek ini adalah membersihkan dan merendam media tersebut dari debu-debu dan zat kimia (binder) yang mungkin masih menempel. Caranya adalah memasukkan sekantung pellet (5L) tersebut ke dalam bak mandi yang besar (15L lebih deh), kemudian difloatasi (diaduk puter-puter deh), kemudian airnya dibuang. Proses ini diulang-ulang hingga air buangannya tidak lagi berwarna coklat. Setelah bersih, kemudian pellet ini direndam bangsa semalam atau dua di dalam air bersih yang telah ditambahkan vit B1. Setelah ditiriskan, pellet siap disajikan, eh digunakan untuk s/h.
Langkah yang kedua adalah anggrek yang akan ditransfer ke s/h “dibersihkan” terlebih dahulu. Dalam hal ini, dibersihkan berarti media yang lama dibuang semua, akar-akar yang mati, tua dan terluka dipotong, seludang-seludang kering yang biasanya masih menempel di pseudo-bulb anggrek dikelupas, kemudian anggreknya direndam di dalam larutan fungisida, bakterisida dan insektisida barang 1-2 jam. Setelah beres, si anggrek dikering-anginkan. Sesudah itu anggrek siap di-s/h-kan.
Langkah ketiga adalah menyiapkan pot s/h. Saya menggunakan gelas plastik bekas aqua untuk anggrek-anggrek yang masih kecil, gelas plastik bekas pop-ice untuk anggrek ukuran sedang dan pot plastik hitam biasa untuk anggrek yang lebih besar. Untuk gelas plastik, harus ditambahkan lubang disisi-sisi gelas, kira-kira 30% dari ketinggian gelas (diukur dari bawah!). Sedangkan untuk pot plastik yang bawahnya sudah berlubang harus diberi mangkuk sebagai reservoirnya.
Proses penanamannya sendiri cukup mudah, bahkan bisa dibilang lebih mudah daripada proses potting menggunakan media konvensional
. Pot diisi dengan pelet 1/3 bagian, anggrek diletakkan ditengah-tengah pot dengan akar disebarkan, kemudian dituangi pellet hingga agak “terkubur”, maksudnya adalah bagian pangkal pseudobulb anggrek, dimana mata tunas dan calon akar tertutupi oleh pellet. Setelah posisi anggrek cukup stabil, maka repotting anggrek selesai sudah.
Pada proses s/h yang saya lakukan kemarin, reservoir tidak langsung saya isi dengan fertilizer. Saya hanya menggunakan air biasa dengan pemikiran bahwa kebanyakan anggrek yang saya transfer ke s/h sebagian besar mengalami penggundulan akar, jadi its no use supplying them with any root-food. Yang penting adalah menjaga kelembaban media untuk merangsang pertumbuhan akar dan tunas baru.
Ini dia anggrek-anggrek yang saya s/h-kan

yang lain ntar ya, capek hehehehehe
Next : Perkembangan dan pemupukan
sampai jumpa
( 