2018- part 4, The PCOS

Posted in Uncategorized on August 24, 2018 by nk

Selama ini saya tidak pernah merasakan sakit yang parah (alhamdulillahirrabbil alaaminnn). Rawat inap di RS? hanya 2 kali seumur hidup saya, pas kena tipus saat saya kelas 3 SMP dan 3 hari saat operasi caesar kelahiran Anin. Selain itu? nope, none, paling pilek, paling batuk, paling gatelan, cukup ke dokter di blok sebelah, beli obat di apotik, istirahat di rumah, cukup. Mungkin karena itulah saya menganggap kesehatan as granted, my bad eh!!!

Mungkin (mungkin loh ya), untuk mengingatkan saya, dari maret sampai april kemarin,saya diberi hadiah, diagnosa endometriosis, kemudian infertilitas sekunder, dan pada bulan mei ini, diagnosanya ditambahi dengan PCOS, combo hattrick triple shot kill!!!

Setelah bertemu dengan dr. PP dengan diagnosa infertilitas sekunder di bulan april kemarin, saya pindah dokter lagi, wkwkw yeah, why? (if you asked), karena pindah kantor, ke Rsiamtp susah, dokter yang sore ga nyaman menurut saya, RS yg deket kantor baru adalah RS-RS besar yang bikin saya jiper bahkan sebelum saya masuk lobbynya, akhirnya saya nyampelah di RSIA YPK, jln gereja santa theresia, naik gojek 7k dari kantor. Selain karena dekat kantor, seorang teman yang pernah mengalami endometriosis menyarankan untuk konsultasi dengan dr. Wachyu Hadisaputra, yang praktek di RSIA YPK tiap hari senin dan selasa sore mulai jam 5, wah … mathuk ini!

So, sore itu, pulang kantor saya langsung pesen gojek menuju YPK untuk bertemu dr. Wachyu (seminggu sebelumnya sudah daftar via telp, takut ga kebagian antrian hehehe). Alhamdulillah saya tidak perlu menunggu terlalu lama. Begitu masuk, Pak Dokter bertanya keluhannya apa dll dll, lalu ditanya kapan terakhir papsmear? 3thn yang lalu (ough, again, my bad). Disuruh Papsmear lagi, sekarang, dan harus setiap tahun (yes sir, i will). Setelah papsmear, another session of “diobok-obok”. And voila…. a string of pearl on my left (or right?) ovary, PCOS detected!

Pak Dokternya tersenyum, see, itulah kenapa kamu tidak hamil dalam 2 periode ini, satu ovarium kena kista, dan yang satu lagi PCOS. Keduanya disebabkan oleh hal yang sama, estrogen imbalance, jadi yang harus kita lakukan adalah menyeimbangkan produksi hormon estrogen kamu lagi. Caranya? Terapi hormon Anti GnRH ya, ummm apa itu?? tubuh kamu ditipu, seolah-olah ada cukup estrogen, padahal itu estrogen abal-abal, jadi hipofise tidak memerintahkan produksi estrogen, so no estrogen=no endometrium = no ovary activity = no PCOS, got it? 3x suntik dalam 3 bulan, no menstruasi selama 3-5 bulan, diharapkan cukup waktu untuk tubuh membersihkan sel-sel endometrium yang salah tempat itu. Ahhh … oke lah Pak.

Tapi, ada TAPInya loh, efek samping rendahnya kadar estrogen di dalam tubuh ada banyak hal yang tidak enak. Hotflash, mood swing, nyeri otot dan sendi, pengeroposan tulang, mual, sakit kepala, no libido, vagina kering, gemetar, deg-degan, berat badan bertambah … duuuh banyak amat yak, tapi demi sembuh, baiklah lets do it.

Pak Dokternya menyarankan supaya terapi hormon ini dimulai ketika saya datang bulan di hari pertama atau kedua, untuk mengeliminasi kemungkinan nyuntik ketika ada kehamilan yang belum terdeteksi, karena suntikan hormon ini bisa menyebabkan kecacatan dan komplikasi kehamilan. Ok lah Pak, no problemo … eh .. yakin no problemo?

Biayanyaa??? 1ampul anti GnRH untuk 1 bulan berharga Rp 2,4 juta, (belum biaya dokternya pasti)… gleeghhhh nyem nyem nyem

Waduh… mengingat picis ditabungan tinggal remah-remah yang sudah melempem, dengan pasrah saya pun bertanya, Pak Dokter, apakah obatnya ditanggung BPJS, yang generik pun saya tak mengapa? Dan seingat beliau iya, obat tersebut ditanggung BPJS, dan tanpa basa-basi beliau langsung menuliskan lembar pengantar berisi diagnosa penyakit saya, kapan dan dosis suntikannya.

Sesi sore itu ditutup dengan pesannya, ini inlacin, untuk PCOS kamu, PCOS selain mengindikasikan ketidak seimbangan hormon estrogen, juga kemungkinan adanya resistensi insulin, kamu balik ke sini pas setelah suntikan ke 3. Yep, siaaap!!! Jangan lupa, kurangi karbo dan lose weight, kalau bisa sampai BMI ideal!

haaa whattt??????bujug itu 15 kiloooo…

Sel-sel lemak, terutama lemak di perut, juga memproduksi estrogen loh … jadi, buang itu lemak!

haaaa….

haaaaaaaaa…. mamaaamiaaah …

diet maknyak … hiks

Advertisements

Posted in Uncategorized on May 8, 2018 by nk

“You don’t bring a child to this world to “solve” your life problem. It is immensely cruel, childish n beban banget buat si anak, kasian anaknya.
You bring a child to this world if and only if you feel like you have a solid marriage and you can give this new soul happiness.”

Dear my (still imaginary) Little Baby

I never know that giving up hopes to have and to hold you someday is as painful as that time when i had to bury your sister/brother with my own two hands.

I am so sorry for giving up, but i had already loved you too much to risk you with less than solid and perfect home in this world.

I am so sorry.. so sorry

2018-part 3, The TTC

Posted in Uncategorized on April 27, 2018 by nk

Sebenarnya inilah postingan yang paling susah untuk saya tulis. Memilah pilihan-pilihan beserta konsekuensinya, menimbang antara kemauan vs kemampuan vs takdir. Heart breaking, eyes leaking, dan akhirnya lagi-lagi cuman bisa menyungkurkan diri sambil ngemis padaNya.

Pada bulan maret kemarin kami memutuskan untuk TTC (trying to conceive) anak kedua kami. Berpacu melawan endometrium dan membuat Anin tidak menjadi anak tunggal. Siklus pertama, pretty sure that we made it on time in my fertile window, tapi apadaya, si bulan tetap datang.

Kenapa si bulan tetap datang ya?? apakah karena herpes saya kambuh lagi di akhir bulan kemarin? apakah saya butuh tes TORCH??, daripada galau mengira-ngira kenapa saya kembali ke dokter Obsgyn, kali ini ke dr PP, dsog K Fertilitas di RSMTP. Sebenernya saya males ke RSMTP, too many bitter sweet memories, di sana kehamilan pertama saya jalani hingga si Anin lahir, di sana juga i lost my second baby, still remember saya nangkring di trotoar depannya sambil mewek berderai-derai, juga ruang ugdnya saat saya mulai bleeding… hiks, tapi apa boleh buat, dr PP ini salah satu ahli fertilitas terkemuka di jaksel yang jadwalnya ngepas dan biayanya terjangkau (eh.. dah mihil juga skrg).

Pertama konsultasi, hari ke 5 menstruasi, langsung cek pakai USGTV (ugh, my private no longer private), kistanya dah ilang (yayyyy), endometriumnya juga tipis (yah kan abis dikeluarin), sel telur juga masih ready berbaris di ovarium dengan ukuran yang lumayan.

“Everything looks good, tapi dari terakhir keguguran, September 2014 hingga Maret 2018, kok tidak ada konsepsi sama sekali, apakah kb?” no Pak Dokter, kbnya dah dicabut ama Bu dokter R

“Berhubungan badan dengan suami rutin (egh, emangnya ama siapa lagi kalo bukan ama suami) ?” weell.. iyes lah Pak Dok.

“Jadi nampaknya anda termasuk kasus infertilitas sekunder” (eeewww jegeerrrrrrr).

Uummm kemarin-kemarin sih hb mah emang sekedar hb, tanpa target, tapi sedikit menghindari fertile window juga,

“Masak 12×4 kali siklus miss terus???” weeellllll… iya juga sih..

Ok here the plan, kata Pak Dokternya:

“Seminggu lagi balik ya, kita cek HSG (hueh apa itu? ), Histerosalpingografi, rahim dan saluran reproduksi disemprot dengan cairan kontras lalu di foto rontgen, untuk mengetahui ada sumbatan di saluran reproduksi apa tidak. Kalau tidak ada, thats great, kalau ada ya harus dibenerin dulu, atau kita bisa langsung coba inseminasi buatan atau bayi tabung, mengingat umur kamu yang sudah 38. We don’t have much time to try”

“Selain itu kita cek ukuran sel telurnya, bila mereka membesar dengan baik, berarti kita bisa cancel tes hormon, kalau ukurannya tidak bagus maka kamu harus tes hormon ya.”

“Kemudian suami juga tes Analisa Sperma untuk mengetahui kondisi spermanya, jumlah, bentuk dan motilitasnya. Kalau kurang bagus harus dibenerin dulu. Untuk kali ini saya resepkan vitamin-vitamin saja untuk sebulan”.

Dan dengan pasrah saya bertanya berapa biaya untuk HSG, tes hormon dan AS di sana, lumayan sih kalau duitnya ada, kalau pas ga ada gini ya.. uhks…lemes lah saya… mengingat duit di tabungan yang tinggal sisa-sisa remah rengginang di dasar kaleng, i didn’t even sure i had enough money for those vitamines….

Selesai konsultasi dan set up appointment buat minggu depan, saya ke apotik buat bertanya harga obatnya… ehhg beneran, vitaminnya aja sejuta lebih, biaya konsultasi dan usg 400 rebu, baiklah saya cari obatnya di apotik luar saja (kalau dapet rejeki).

Pulang dari RSMTP saya ke kantor suami, dengan wajah digelayuti mendung kelabu awan cumulonimbus. Ketika Pak Bojo bertanya gimana hasilnya, saya cuman bisa manyun, menahan hujan badai supaya tak turun. Setelah bisa bicara saya cuma mampu bilang, disuruh beli vitamin, abis sejuta, tapi belum beli, ga ada duit… eh dia banting dompet di meja, “nih, uang perjalanan dinas ke bandung yang kemaren barusan cair”… weh lha dalah… jumlahnya kok pas ya, malah ada lebihannya…Ya Allah… (persis kejadian pas saya ke dokter TZ buat periksa endometrium, si Pak Bojo dapat duit yang jumlahnya pas buat biaya dokter hiks)…

Ya Allah, Kau beri kami kesulitan, yet, Kau beri juga jalannya… hujannya pun turun tapi cuma gerimis rintik-rintik sambil senyum sedikit. But the road still long and winding, we cant see the end yet.

2018-part 2, The Endometriosis

Posted in Uncategorized on April 17, 2018 by nk

Setelah berhasil menyalakan lampu untuk menerangi dunia saya (mungkin cuma membuka jendela supaya cahaya bisa masuk sih), welll.. here it is

Saat pertama dokter mendiagnosa endometriosis dengan segala konsekuensinya, tentu saja saya tidak langsung menerima begitu saja, second opinion is a must!!! Saya memilih konsultasi dengan dr. TZ SPOG dengan subspesialisasi onkologi. Another session being “diobok-obok”, dan, ya, kista itu nangkring di rahim saya, ketebalan lapisan endometrium yang di atas rata-rata. Same advice, segeralah hamil dan melahirkan, dengan hamil produksi endometrium selama 9 bulan bisa dihentikan, sehingga tubuh punya waktu untuk memperbaiki diri, ketika SC (karena anak pertama saya lahir secara SC, dan VBaC resikonya tinggi), sisa-sisa endometrium yang masih menempel bisa dibersihkan. Rencana selanjutnya bila tidak hamil adalah dengan terapi hormonal untuk menghentikan menstruasi sementara 9-12 bulan, seperti kehamilan, tapi semu (hiks), nanti diulang lagi setelah istirahat beberapa bulan. Efek dan resikonya? tentu saja dikontrol tiap bulan. Biaya? sekali suntik sekitar 1-1,5jt, butuh 3-4kali suntikan untuk menghentikan menstruasi (mendingan disuntik enak-enak ma pak bojo- fiktormodeon-). Operasi? itu last resource bila endometriosisnya masuk ke tingkat parah, operasinya bagaimana? bisa hanya pengerokan lapisan endometriumnya atau bahkan pengangkatan organ reproduksi bila sudah parah, “sudah ibu jangan pikirkan yang itu, nanti stress” kata Pak Dokter. Untuk sementara cuma diresepkan asam folat dan vit E oleh beliau. Ah okelah, the next game plan, diskusi dulu ama Bojo.

Wellll… diskusilah kami… sambil menahan mewek (i am ugly crier). Aku kudu kepiyeeee iniiiii …

Opsi pertama, hamil, yeah easy (i thought, been there done that, hadn’t I? ) tapi konsekuensinya seumur hidup… siapkah kami mengurus bayi lagi? sudah terlalu lama kami too comfortable, anin sudah bisa makan dan cebok sendiri, an independent being. Kalau kami tidak mengambil opsi yang ini, konsekuensinya adalah no more baby ever, ketika terapi hormon selesai saya akan berusia 40tahun, jam biologis saya sebagai wanita sudah expired. Anin bakal jadi anak tunggal, kalau kami sudah tidak ada, she’ll have no family unless she had her own. Saya juga hampir jadi anak tunggal, tapi untung saja my bro lahir, dan saya benar2 bersyukur punya dia.

Opsi kedua, terapi hormon, mahal, konsekuensinya : no more babies, efek samping? bagaimana badan saya bakal bereaksi terhadap perubahan hormon masih belum jelas (dulu saya pernah punya benjolan di payudara, kata bu dokter kala itu its ok, hormonal lump, no kb yang hormonal ya, those lumps may turn wild).

Opsi ketiga, belum perlu dibahas, kan dokternya juga bilang jangan dipikirin dulu :p

Setelah diskusi, ok lah, kami ambil opsi pertama, konsekuensinya insyaallah kami bakal bisa handle, bawa bayi ke kantor, tak masalah, my office was roomy enough to play football (lebay), perlengkapan perah asi? di kantor ada freezer, jadwal? karena dana riset dipotong oleh pemerintah, maka kegiatan jauh berkurang, no problemo kan….

Haaah ambil nafas sejenak… sempat lega, dedek bayi, we ready, markidon mari kita ngadon!!!

Tapi… jeng jeng… gak lama dari situ datanglah SK mutasi, saya dipindah tugaskan ke kantor yang lain.. better salary iya, tapi full hectic jobs everyday, dinas luar tiap minggu, tiap bulan. Berangkat dan pulang kantor harus naik mrt yang haltenya naik-turun 3-4 lantai. Ruangan kantornya kubikel-kubikel kecil yang cuma muat buat naruh komputer dan tas, no freezer… no embuhlah…. ah au glap….. serasa mau nangis guling-guling. Iya sih saya senyam-senyum saat pamitan sama teman-teman di kantor yang lama, tapi begitu pulang, saya mewek lagi dan mewek lagi.

Lha mau gimana, udah kadung ngadonin nih bayi, eh variabel pendukungnya berubah drastis… hiks….

2 minggu berlalu, kami sempat optimis adonannya jadi nih, pas masa subur toh kemarin, eh tapi si bulan datang, dengan sakitnya yang aduhai itu. Change game plan? nope, i already love this (still imaginary) baby, masalah gimana ngurusnya nanti, dipikir nanti dah (its my hormons talking). Kemudian yang jadi pertanyaan… kok ga jadi sih… kan kemarin ngadon pas masa subur …. apakah… apakah…..(to be continued, saatnya makan siang)

2018-part 1, Here We Go

Posted in Uncategorized on April 15, 2018 by nk

7 tahun berlalu, banyak hal yang telah terjadi, tapi untunglah kami, the three of us masih utuh bersatu teguh, walaupun hard to tell where life will take us to.

Tahun 2018 ini diawali dengan penuh optimisme, but then there comes the storm. Di awal januari, yaaay ip semester genap kemarin dapet 4 loh (yep, i retake my mastership degree).

Di bulan februari, i was goin to apply for doctoral scholarship, yeah baby, profesor nk here i come, life still seemed that perfect.

Di bulan maret, dokter mendiagnosa saya dengan endometrium, you need to have your baby asap, its now or menopause, heh, what?? whattt?? wtf???!!!

Sebenarnya gejala-gejala endometriosis sudah saya rasakan sejak masih gadis. Menstrual pain, dilepen? sudah biasa, ponstan was my best friend. Untunglah dilepen ini sempat berhenti begitu saya menikah, hamil dan punya anak pertama saya (yang lahir secara caesar, rahim saya sempat dibuka dan dikerok, dibersihkan). Setelah itu saya memakai IUD yang ternyata juga membantu mengurangi tumpukan endometrium. 5 tahun kemudian saya lepas IUD, dan hamil anak kedua di tahun 2014 yang berakhir dengan keguguran. Too bad, i declined doctor’s advice for DC, i opted taking cytotec to clean the womb. Di tahun 2016 dilepen kembali datang perlahan-lahan, nothing that i can’t handle, so i ignored it. Hingga di akhir 2017, dilepen ini mencapai intensitas yg membuat saya cuma bisa mlungker di kasur ketika haid datang. Pak Suami yang ga paham mengira saya cuma iseng, dan sempat memicu pertengkaran di antara kami, untunglah we can still resolve it…. well…. emmm peacefully. Akhirnya bulan maret kemarin saya ke dokter obsgyn di RSIA dekat rumah.

Waktu di dokter, saya di usg perut, yang terlihat di layar monitor hanya hitam, abu-abu, putih, entah apa itu. “Bu, ini ada kista, tidak terlalu besar, dan kemungkinan besar anda mengalami endometriosis”, “huh?? what? mahluk apa itu Bu Dokter?” , saya keceplosan. Kemudian dokternya pun menjelaskan apa itu endometriosis, penyebab, gejala, efek dan penanganannya. I didnt really listen actually, gejala yang diterangkan Bu Dokter exactly like what i always feel everytime i get my period. Mo pipis sakit, mo kentut sakit, mo BAB sakit, pinggang ke bawah sampai kaki rasanya abis dilindes truk tronton, mual, deg-degan, pusing… ah tau lah.

Dan efeknya, infertility, endometriosis bisa menyebabkan sumbatan di saluran telur, di rahim, di rongga perut, dimana-mana, selain itu adanya endometriosis menyebabkan tubuh membentuk lebih banyak makrofag yang juga menyerang sperma dan embrio yang terbentuk. Jadi, “Bu kalau anda ingin punya anak lagi, segeralah hamil, mumpung endometriosis belum terlalu parah ini”, dan saya pun masih terbengong-bengong mendengarkan kata-kata Bu Dokter. “Kalau enggak hamil gimana Bu??” tanya saya. “Kalau tidak ada planning untuk hamil, kita bisa mencoba terapi hormon untuk menghentikan menstruasi, sehingga endometrium tidak terakumulasi”, “eh berhenti mens? as in menopause gitu Bu?”, “yep, begitulah”…..haaa whattttt nooo. . i am only 17, belum saatnya menopause Bu Dok….Saat itu saya cuma bisa menjawab bahwa saya harus diskusi dulu dengan suami untuk langkah selanjutnya, dunia saya terasa gelap (ini dunia gelap episode 2 dari yang pernah saya rasakan)

to be continued…. (hujan tears mode on)

2018

Posted in Uncategorized on April 14, 2018 by nk

woah… 7years gone by

Saya pikir saya telah kehilangan akses atas blog ini, i didnt remember the log in at all… email yg biasa saya pakai tertaut pada blog lain yg saya pake iseng doang.  I had given up

Tapi tetiba triiiingggg.. saya inget, exactly when i need place to spend my words diarrhea…

hiks Terimakasih Tuhan… alhamdulillaaahh

Hmmmm

Posted in Uncategorized on June 14, 2011 by nk

ayooo semangat … mari ngeblog lagi!!